17 Feb 2017

Tentang Kita (4): Sepoi-Sepoi Finansial

Dan bahkan, ketika gaji kita digabungkan, masih ada beberapa bulan kita mengalami fase defisit keuangan



Kita adalah pasangan nekad. Sebelum saya melamar istri, ada impian besar saya yang belum terwujud dan harus diwujudkan: membangun rumah orang tua saya. Dan, istri juga memiliki impian yang sama. Itu tadi, kita adalah sepasang manusia nekad!
 
Ajaibnya, kita justru memutuskan untuk menikah (setelah perundingan bersama orang tua yang alot) tepat ketika beberapa bulan rumah baru selesai dibangun. Keputusan yang nekad pula.


Konon katanya salah satu komponen penting rumus pra-nikah adalah keterbukaan tentang keuangan. Praktis, di awal-awal pernikahan kami, urusan ini menjadi menu santapan utama. Sebulan, dua bulan, tiga bulan pertama pernikahan bener-bener fase pendewasaan kita.

Ego, ambisi, kekurangan-kelebihan, kebiasaan, sampai hal-hal remeh mengaduk-aduk emosi kita, Juga, keuangan.

Ibaratnya, ketika langkah kaki kanan pengennya maju, tapi kaki kiri masih nyangkut di kali. Namun kita dipaksa harus melangkah bersama. Benar-benar harmonisasi yang indah. Tapi beginilah seninya menikah. Fase sukanya banyak, tapi apakah cerita pernikahan yang akan kita ceritakan kepada anak-cucu?

Balik ke keuangan. Gegara kenekadan itu, yah beberapa bulan kita pengalami defisit. Lalu?

Alhamdulillah, saya memilih istri yang luar biasa tabah. Ada beberapa point yang kami jadi evaluasi dan renungan  bersama.

Pertama, kami berdua dibesarkan dalam keterbatasan. Banyak orang sekitar kita yang nyeletuk "kamu bisa dewasa sebelum waktunya" atau cuman sekedar adigum "kasihan hidupnya". But, it's our destiny. Jadi ujungnya, fase defisit itu biasa bagi kita hehe.

Kedua, saya dan istri punya karakter berlawanan. Jika saya mbatinan (lebih banyak mikir daripada aksi), istri saya kebalikan. Dan di saat fase krisis hadir, istri justru menjadi orang pertama yang membuat saya tersenyum dan bersyukur. Kata-kata khasnya, "Ayo ayah semangat mencari rejekinya, disyukuri rejeki yang sekarang. Inshaa Allah ke depan lebih baik". So sweet kan? Bikin lumer hati ini.

Ketiga, biasanya dalam kondisi kepepet, pikiran pun bisa buntu, aktivitas terganggu. Itu tipikal saya. Berbeda dengan istri, dalam kondisi sepailit apapun, istri selalu menekankan untuk menghargai diri sendiri. Bentuk pola menghargai hasil polah sendiri adalah kunci kita bisa menikmati hidup. Bukankah hidup di dunia hanya sebentar?

Keempat, dan yang paling mengharukan. Istri, sebagai bendahara rumah tangga selalu tidak pernah absen menaruh prioritas shodaqoh dan infaq dalam kondisi apa punPrinsipnya yang saya adopsi, sedekah tidak akan membuatmu miskin. And, it's work.

Terakhir, sawaktu bujang saya dan kebanyakan orang mungkin sering bertanya, menikah itu menunggu mapan atau nggak? Lebih banyak orang (di sekitar saya) yang berprinsip: 

Menikahlah ketika sudah mapan, kerena kesengsaraan hidup itu untuk laki-laki seorang, tidak untuk dibagi dengan anak dan istri


Anda boleh setuju atau tidak. Tapi berdasarkan pengalaman kita, naik turun finansial dalam berkeluarga itu adalah perekat hubungan suami istri. Ibarat sepoi-sepoi angin, ia merambat ingin merenggangkan genggaman erat kita. Tapi kita memilih untuk menikmati bersama. Berdua. Eh, bertiga sama Mb Denisa gembul2.



Yah, asal jangan keseringan defisit saja *eh

2 Feb 2017

Cerita Kita (3): Seribu Wajah Parenting



Kekhawatiran itu muncul lagi Serupa tukang pos tiap pagi, ia datang mengantar pertanyaan tanpa jawab yang menjulur pada hati yang was-was. Adakah ilmu pakem untuk orang tua dalam membesarkan anak? Istilah, ilmu parenting.
 ****

Kita duduk bertiga, dalam ruangan ber-AC sekitaran pukul 10 malam.  Mereka berdua masih berusia belasan menjelang dewasa, anak kelas XII SMA yang berjuang mendewasakan diri. Dialog dimulai. S: saya, A1: anak pertama cowok, A2: anak kedua cewek.

S: Mood turun atau fase down itu biasa. Apalagi kalian masih hitungan remaja menjelang dewasa. Jutru kalau nggak naik-turun, namanya bukan manusia. 

A1: Bener, kamu fokus pada kelebihan, jangan menangisi kekurangan. Manusia kan pasti ada paketan kelebihan-kekurangan.

A2: Tapi apakah sifatku yang kayak gini itu ada hubungannya dengan masa kecilku yang sering melihat kedua orang tuaku berantem setiap hari? (Lalu, A2 bercerita panjan lebar tentang orang tuanya yang cekcok dari dia kecil sampai cerai. Berada dalam strata ekonomi atas, keduanya dokter spesialis, keluarga besar tanpa catatan cerai, tidak menjadi jaminan usia pernikahan. Lalu, anaknya menanggung masa lalu yang rumit, kelam dan tidak sehat)

25 Jan 2017

Cerita Kita (2): Satu Tahun Kebersamaan

Ngowohnya kayak ayah >.<


Setahun silam.

Pandangan saya fokus ke satu titik, tapi pikiran kemana-mana. Mencoba segala jurus untuk rileks tapi nihil. Dalam satu ruangan bersama dengan keluarga saya dan keluarga dia, adalah momen paling dag-dig-dug-der selama saya hidup.

Sambil mengalihkan grogi staidum 88, saya ngobrol dengan Pakdhe saya yang humoris. Ngobrolin apa menjelang detik-detik akad? Entahlah. Keringat dingin tak hanya membasahi baju saya, tapi juga ingatan saya.

Sudah satu jam lebih kita menunggu Naip (petugas KUA) datang. Artinya terlambat 30 menit dari jadwal. Tapi pikiran aneh-aneh justru muncul di saat sakral. Satu yang saya ingat: mulai hari ini dan selamanya, saya akan hidup dengan wanita yang saya pilih. SELAMANYA?

Namun saya selalu ingat wejangan teman lama: bukankah jalan pernikahan itu selalu terjal?

7 Dec 2016

Cerita Kita (1)


Kala itu, ada suatu masa yang menjejak nasib dan takdir tanpa irama.

Aku bersama waktu datang kepadamu. Menanya tentang sebab-musabab kelahiran kita. Menujum masa depan dan ketidakpastiannya. Memaksa keakuanku untuk hadir dalam nafasmu. Membibit penawar dari malam tak berujung yang pernah ku lantunkan

Dingin, begitu kesan pertama -yang tersirat dari sorotan mata sayumu. Bukan penolakan, bukan penerimaan. Tidak ada nasib paling sadis dari pencari jawaban selain keterdiaman. Suaramu sengaja kamu gantung berbulan-bulan.

Namun aku percaya, Tuhan senantiasa memilih jalan paling romantis dari semua pejuang asmara -begitu sebutanku pada kekakuanku. Satu goresan sudah terukir, dan harus disempurnakan. Kaki sudah terlanjur melangkah, tak elok berujung kemunduran. Nafas terhembus, berulang kali menonjok kesadaran untuk optimis. 

Hingga, anggukanmu memantapkan keyakinanku.

Kini, kita hadir dalam satu. Menapaki jalan yang tak pernah kita jamah. Menyapa pagi bersama. Mengakhir malam berdua. Eh, inshaa Allah akan bertiga. Masih banyak tangga-tangga yang menunggu jejak kita berdua.

Kita adalah bagian metamorfosa cerita yang dahulu terpisah, kini melebur, dan kelak menggema dalam keabadian.

2 Dec 2016

Hoetry #1

Mom and Dad wannabe :)


Aku tahu,
Masa depanku tak seputih awan
Aku menyadari, 
Masa laluku tak sebening embun pagi
Atau mungkin, kamu menemukan kerak jelaga di situ?

Namun, sejak ku genggam erat jemarimu
Aku baru mengerti apa arti kata "lengkap"

Terima kasih, sudah menggenapi hidupku


Surabaya, 17 Oktober 2016



*) di sela-sela promosi ke SMA Trimurti

24 Nov 2016

Rumah dan Kediaman

Hello blog, maaf lama gak disambangi kamu. Sudah setahun lebih gak ada tulisan nyantol di sini. Terlampau banyak hal yang ingin saya share di sini, dari dunia saya yang sudah berkeluarga. Insya Allah, habis ini menyusul tulisan yang lain. Berharap kelak, anak cucu bisa mendengar cerita saya lewat sini. Jadi ceritanya, ini first post pasca nikah.
 
Banjir di Ruang Tengah


Kemarin rumah kami -lebih tepatnya kontrakan, kebanjiran. Air merembes dari atas plavon memenuhi seluruh ruangan dalam rumah. Teras penuh bletokan (kotoran dari got), ruang tamu menggenang air kuning, sampai ruang tidur juga tak luput dari jamahan air. Lima kasur kuyup, baju dua lemari kepeh, sofa bermandi ria, genangan dimana-mana.

Malam itu kami tidur dengan air masih tetap menggenang, menunggu hujan reda hingga keesokan harinya.

Pagi-pagi saya ke atap rumah. Dan ternyata talang airnya penuh dengan daun. Balada suami muda yang gak ngerti dunia pertukangan dan per-rumah-an. Hehe. Akhirnya saya beresin semua, plus ditambal bagian talang yang  bocor.

"Hujan dan banjir di rumah". Dua kalimat nostalgia yang sama-sama kami entas dari masa lalu. Malam-malam setelahnya, kita saling bercerita tentang rumah orang tua kita -juga langganan banjirnya.

*******

"Atap bocor itu biasa, Yah. Setiap hujan, air masuk dari bawah lantai juga dari atas genteng," ujar istri mengawali cerita.

Dulu, setiap musim penghujan dan setiap hujan, rumah istri yang lebih rendah daripada rumah di sekitarnya, menjadi langganan banjir karena usia memakan kualitas material genteng dan plesterannya.

"Kita tidur ndempis (mojok) di ujung kasur, supaya gak kena tetesan air bocor. Sementara air menggenang di bawah. Besoknya nyeroki air sampai bersih," tambah istri.

16 Sept 2015

Menambang Rima

Kelabu. Menarilah selama kamu bisa mendendangkan jari jemarimu. Mengelanalah sekuat kakimu mampu melangkah. Berbalik-arahlah jika itu ada warna lain yang menyapamu di pinggir jalan. 

Tak usah kau risaukan gurauan malam tentang hitamnya bayanganmu. Karena di setiap jejak masa lalu, terdapat selipan kenangan yang tidak semuanya pahit. Andai kau mau sedikit memaksa, urutlah urat nadi dan nafasmu, lalu sumpal dengan keikhlasaan. Niscaya, benalu-benalu kehidupanmu akan merambat pelan dan mati berguguran. Rontok.

Kau ingat tentang cerita kelabu 12 tahun silam. Mbah kakung terlalu sering bercerita dengan gaya personifikasinya, dan diselipi guyonan satir. Mengiris nurani yang terlanjur terpotong remuk menjadi delapan belas.

Malam itu, iya pas dengan kelabunya malam, Mbah Uti menanam ketela rambat di dalam rumah. Banyak yang protes dengan kebiasaan tidak biasa ini. Selain tentu kemarin beliau pernah mendulang tembakau di sawah yang dikiranya benalu.

Sesuai perkiraan ramalan keluarga, ketela tidak hanya merambat untuk dipanen umbinya saja. Seluruh rumah terkungkung oleh rambatan batang inangnya yang tak sedap -juga tak indah dipandang. Semua memandang kekegelapan akan datang ke rumah ini. Kecuali si penanam yang malah yakin bahwa Dewa Wisnu itu alergi dengan daun umbi.

Entahlah, siapa yang benar.

Sebulan berlalu sejak umbi pertama dipanen, tak pernah terjadi hal-hal aneh dalam rumah. Semua tampak normal biasa-biasa seperti rumah tetangga sebelah yang biasanya rumahnya dicat hijau seperti daun. Ya, daun umbi.

Sampai pada hari ke-32, Eyang Uti mengundang tetangga jauh yang katanya adalah saudara tirinya ke rumah. Namanya Eyang Te. Seaneh namanya, ia datang membawa barang-barang tak lazim ke dalam rumah.

Pertama aku melihatnya menaruh sejumput daun kering -yang sudah aku curigai adalah daun ubi- ke dalam botol bekas obat dan menaruhnya dipojok pintu dekat dapur. Pernah juga ia meludah kasar di ruang tamu, seolah ada musuh bebuyutannya datang melabrak.

*) bersambung

9 Jun 2015

Apa itu Cinta, Hidup, dan Tuhan?


Tercoretlah satu mimpi saya di bulan maret. Bertemu dengan penulis favorit, Dewi Lestari! Sebagai Supernova-maniac, saya berasa dipertemukan oleh takdir untuk meledakkan mimpi menulis dalam diri yang sudah lama tiarap. Dalam tulisan ini, saya akan share semua ilham dalam Dee’ss Coaching Clinic.

Bertempat di Pepusakaan Bank Indonesia, Dee hadir dalam senyum dan semangat kota Pahlawan. Dee aslinya lebih cantik daripada di layar tivi dan sangat langsing, walaupun anak sulungnya sudah berusia 10 tahun. Kami ber-35 dirasuki ilmu berjibun yang jarang bisa di dapatkan oleh sembarang orang.

Coaching kali ini sangat special bagi Dee, karena baru pertama kali di gelar dan langsung merambah para penggemar fanatiknya di tujuh kota besar se-Indonesia.

Dee mengawali penuturannya dengan visi besar dari dirinya yang mengggandeng Bentang Pustaka selaku penerbit buku Supernova dalam acara DCC ini. Dengan model seleksi tulisan review buku, Dee mendatangi penggemarnya yang memang ada niat dan keinginan kuat untuk menulis. Maka, muncullah nama-nama dari beragam latar belakang. Dari emak-emak rumpi, sampai anak SMP yang imut.

15 Mar 2015

Bifurkasi Mimpi dan Dimensi Keempat


Supernova adalah adiksi bagi petualang sci-fi, pencari identitas diri, dan tentu pecandu karya Dee . Ibarat farmalog, Dee senantiasa bisa meramu sudut pandang baru terhadap realita biasa menjadi obat baru bagi pencintanya. Dalam seri Gelombang ini, Dee meleburkan mitos dengan sains tentang bunga tidur. Tentu dengan sudut pandang Dee -senantiasa tak terduga.
Perjalanan Thomas Alfa Edison dimulai dari Sianjur Mula-Mula, kampong kecil di pedalaman Samosir, berulir panjang sampai New York, Amerika Serikat. Hidupnya bukan kisah asam-manis meraih asa, tapi kisah pelarian diri Alva menghindari prosesi humanitas: tidur.

Nama penemu bola lampu ini dianugerahkan akibat obsesi kompulsif sang Ayah terhadap ilmu pengetahuan. Tak seterang fungsi lampu, hidup Alva Sagala –marga Bataknya- justru teramat gelap. Lampu kehidupan mati sejak suara gondang yang mengundang sosok misterius, hitam, berayap, dan bermata kuning nan tajam. Si Jaga Portibi.

Bersama kedatangan Si Jaga Portibi, malam-malam Alfa turut menggulita. Di setiap tidurnya, ia terperangkap pada mimpi yang sama. Mimpi yang mencekiknya. Keganjilan hidupnya berlanjut dengan kedatangan orang sakti yang ingin menjadikan dia sebagai muridnya. Di perairan Danau Toba, ia justru hampir terbunuh oleh Ompu Togu Urat, salah satu calon gurunya. Ketidaktahuannya berbuah kewaspadaan.

Obsesi Sang Ayah tentang kehidupan lebih baik, membawanya ke tanah Jawa. Bersama dengan batu-batu asing pemberian Ronggur Panghuntur -guru pertamanya-, ia meraba takdir yang disematkan melalui mimpinya. Tak banyak kejadian dia alami saat di Jakarta selain dia sudah terbiasa menjaga diri untuk senantiasa tidak tertidur. Datanglah tawaran dari kerabatnya, Amang Gultom, ia pergi ke Hoboken, Amerika.

Di apartemen baru, terserak kumpulan manusia imigran, pejuang nasib, dan sekelompok mafia antar ras. Tekanan keras lingkungannya membawanya hingga mendapatkan beasiswa ke tiga Universitas sekaligus. Dalam pelarian anti-tidurnya, ia bekerja menjadi trader kelas kakap. Upah kerjanya mampu melepaskannya dari status imigran gelap.

Lewat Ishar, perempuan misterius yang ia ajak bercinta, ia bisa tidur lagi setelah puluhan tahun. Keluhan tidurnya membawa ceritanya klinik Somniverse. Ia menemukan rahasia dalam mimpinya di sini. Takdir lalu membawanya ke Lhasa, Nepal. Bersama dr Kalden, ia berhasil melakukan teknik mimpi secara sadar dan mulai memahami sosok Si Jaga Portibi. Utamanya, ia telah menyadari dirinya yang sesungguhnya bersama bangunan oktahedral dalam Asko-nya.

Dalam balutan budaya Batak yang kental, Dee menghadirkan sosok Alfa Sagala yang tumbuh dan berkonflik dengan mimpi. Sekali lagi, Dee berhasil meramu dua poros mitos-sains menjadi jalinan kisah anak muda sekali. Lihat pilihan Bahasa Inggris dalam setiap dialog, yang justru mirip skrip film Hollywood.

Kekayaan detail dari setiap kata menunjukkan kedalam riset Dee untuk membangun sosok Alfa. Terlebih, topik mimpi nyaris tidak pernah ada dalam literasi Indonesia, sehingga menjadikan halaman demi halaman seperti pengetahuan baru. Imajinasi tentang sosok dunia ketiga dan visualisasi mimpinya sangat rancak dan nampak riil.

Seperti seri sebelumnya, di ujung halaman, akhir kisah Alfa yang mengundang tanya.  Dan di bagian ini, pembaca dibuat ketagihan dengan ramuan Dee. Dalam setiap seri Supernova, klimaks dari serangkaian konfik tokoh utama (seperti sengaja) tidak diselesaikan . Dee mampu menikung alur pikiran pembaca dengan cara yang sangat elegan. 


Bagi pembaca serial dari pertama: apakah Dee akan menyambungkan benang abstrak atas lenyapnya Diva Anastasia, pembuat tato Bodhi Liong, Gio, Zarah, Elektra, dan trio Peretas-Infiltran-Sarvara? 




Saya Ingin Belajar Bersama dengan Dee

Saya percaya bahwa menulis itu adalah keterampilan, yang semua orang bisa memilih untuk memilikinya atau tidak. Ia bukan bawaan kromoson, yang sewajarnya harus dirawat agar tidak layu dan senantiasa berkembang. Dan saya menyadari keterampilan menulis saya sedang tiarap, tertuduk lesu menyaksikan hilir mudik rutinitas.

Lima tahu lalu saat masih kuliah, saya pernah menerbitkan buku hasil komplikasi catatan harian. Diterbitkan oleh penerbit mayor dan sempat mejeng di beberapa toko buku nasional. Dua tahun kemudian, buku kedua lahir. Dua tahun berselang, buku ketiga sudah terbit lagi. Walaupun ketiganya ditulis bersama rekan penulis, tapi porsi tulisan saya lebih dominan.

Dan sudah setahun lebih berselang, gairah menulis saya mengendor drastis. Tak satu pun rancangan buku yang dulu bergelora ria yang tuntas. Semua mengambang di atas awan gagasan, menguap bersama rasa jenuh.

Berkutat dengan aneka teorema otak kiri, saya tumbuh berkembang dengan diktat tentang dunia ke-Teknik-Mesin-an dan jurnalistik. Kepakaan menulis saya asah dengan membaca dan menjadi relawan social (volunteer) di daerah Dolly, Surabaya. Saat itu, otak kanan dan kiri masih bisa bertumbuh akur bersama. Namun, sejak bekerja, dunia literasi menjadi terasa begitu jauh dan asing.

Saya percaya bahwa menulis itu bisa dipupuk dengan (salah satu cara) bertemu dengan penulis favorit. Dan sejak seri pertama Supernova lahir, saya seperti sudah keracunan tulisannya Dee. Lewat Dee Coaching Clinic, saya ingin bisa belajar bersama dengan Mbak Dee. Belajar mempertahankan konsistensi  untuk senantiasa berkarya.

Saya percaya, tulisan adalah salah salah satu hal abadi yang bisa saya tinggalkan pada masa. Dan saya ingin bisa menulis dan berkarya kembali.

Karya ku
1.       Permata dalam Lumpur, Quanta
2.       Titik Nol Kampus Perdjoeangan, ITS Press


23 Jan 2015

Arjuna de Dontagne

Kabut pagi menyelimuti punggung perbuktian bersama ribuan cemara yang terbangun oleh sapuan sang surya. Tak seekor pun kicauan burung menemani. Mungkin di ketinggian lebih dari 2000 mdpl ini, tidak ada satupun bangsa Aves sudi bersemayam. Tapi sublimasi H2O menari sempurna bersama semburan CO2 dari setiap desahan nafas. 
Konon, kata sebuah legenda, inilah tempat para dewa bersemayam. Waktu yang seakan terhenti oleh alam, kebisingan yang sudah dilumat warna hijau dan identitas diri yang terungkap keasliannya. Di sinilah cerita dimulai, di bawah negeri para dewa. Arjuna de Montagne.


Arloji di tangan sudah menunjukkan jam 5 sore. Sementara hujan yang sudah kita terjang dari jam 3 tidak kunjung reda. Justru kabut tebal menyeruak memenuhi segala penjuru. Dalam radius tiga meter saja, tak satu pun benda bisa kita lihat. Cahaya matahari pun lamat-lamat menghilang, beberapa kali petir terjun di punggung gunung Arjuno.

Kita, sembilan orang (Syani, Mila, Ugi, Nivita, Dio, Arsy, Bibil, Bondan dan Saya) masuk ke dalam gubung kecil. Hujan menjelang malam dicampur kabut dan deruan angin membuat beberapa dari kita ada yang menggigil. Pelan-pelan, gubuk kami pun dipenuhi kabut putih tebal. Saya hanya telentang di atas jerami tanpa mengoceh sama sekali dan lebih sering merenung. 

Di sebuah gubuk, hujan deras, tidak ada penduduk, tidak ada pendaki lain, jarak pandang menipis, menjadikan sebuah situasi yang benar-benar pertama saya alami. Kadang saya ingin memberitahukan isi hati kepada alam, "berapa banyak rahasia kehidupan yang kau simpan dalam dirimu?"

Menjelang jam 6, hujan mulai menipis. Tersisa secuil mega merah di langit dan headlamp mini yang bisa menerangi sisa perjalanan kami. Bermodal nekad, kita lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum malam benar-benar kelam sempurna. Syani, sebagai ketua perjalanan mencari track, dan kita? Memegang tali pramuka bersama agar tidak ada yang tertinggal atau sengaja meninggalkan diri sendiri (ini gueh banget)

Hujan masih menderu, jalan yang kita lalui pun berubah menjadi selokan. Pos terakhir, tanjakan paling ekstrem, dan benar-benar gulita sempurna. Jatuh, kepleset, keprosot, ngos-ngosan beradu sengak dengan suara petir di atas kita. Tak banyak bercanda di perjalanan terakhir ini, semua hanya bertanya: kapan perjalanan ini bisa berakhir? Dimanakah pos terkahir?

Kepasrahan total nyaris bertemu dengan keputusasaan. Sudah sejam kita berjalan, padahal menurut pendaki lain hanya 20 menit. Apakah kita nyasar? Saya sendiri tidak pernah terlintas jika perjalanan perdana mendaki gunung ini harus berakhir dengan nyasar di malam hari pada ketinggian lebih dari 2000 mdpl, dan hujan. Entah apa jadinya.

Tapi itulah naluri manusia, terlalu sering menjadi realistis, padahal ada kejutan sudah menanti beberapa langkah di depannya. Diselingi suara anjing yang mengaum, ada lampu pendaki lain yang mengarahkan kita ke lokasi pos 5 yang gelap gulita. Akhirnya kita mencapai pos 5!

Ternyata sudah ada puluhan pendaki yang sudah tidur nyenyak di gubuk pos 5. Di sampingnya, bangunan tua yang nampak suram dan seram menyembul paling megah. Belasan anjing menggogong yang membuat suasana makin mistis. Namun ternyata semua anjingnya jinak, bahkan bisa dielus-elus layaknya kucing.


Selamat pagi, Indonesia!
Pagi ajaib. Saya optimis pagi ini seluruh badan saya, terutama kaki, akan mengalami njarem-isasi massal. Ternyata salah besar, pagi hari ini saya sehat walafiat. Yah, walaupun saya ditinggal anak-anak ke air terjun. Eh, lihat air terjun atau lihat orang mandi (dan telanjang massal?) Hahaha

Pagi-pagi kita langsung kecanduan selfie. Itulah penyakit mental orang kota. Setiap perjalanan hanya bernilai di atas foto saja, mejeng sana sini, upload sosmed, dan sejenisnya. Dan itu sangat menggelikan juga memprihatikan. Terlalu banyak foto yang kita ambil dari sudut pandang yang sama. Suatu saat nanti, studio photo pasti akan pindah ke alam, juga ke gunung asli. Maybe.

Selanjutnya kita bingung dengan tenda. Ya, ini menjadi kegelian kita selanjutnya. Padahal kita sudah sewa tenda mahaal banget, tapi tak terpakai. Jadilah kita mendirikan tenda di depan gubung, memasak di depan tenda dan berselfie ria di situ. Padahal itu hanya manipulatif hahaha

Tenda menjadi semacam perangkat photo studio yang bawa dan dipasang di atas tanah yang seharusnya itu adalah jalanan, haha. Tapi tak apalah, karena kita semuanya masih newbie dalam kisah perjalanan pendakian ini. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan selfie, tapi saya turut ketularan menjadi narsistic. (ini kelihatan saya boong banged haha).

Jadilah kita mejang mejeng di pagi hari. Sayan, hari itu berkabut. Jadi tidak melihat awan secara jelas.









*) Lihatlah foto di atas dengan seksama. Tak perlu saya tambahkan caption di dalamnya. Hehehe.

Pertama dan Memalukan
Jika foto di atas mempermalukan anggota lainnya, sekarang giliran saya mengakui "dosa" saya plus beberapa kejadian behind the scene. Karena lama tak menulis, saya masih terlalu kaku untuk berkisah secara runtut. Jadi saya penggal saja biar ringkas.

#1 Karena ini perjalanan pertama, kita benar-benar tak tahu apa itu gunung selain dapat informasi dari mulut-mulut atau di gugel. Jadi di hari pemberangkatan, kita membawa aneka bekal yang ternyata dalam perjalanan, kita seperti orang mau minggat. Di saat pendaki lain cuman bawa tas ransel saja, kita bersembilan membawa tas karier full packed.

Paling parah ya saya sendiri. Bawaan saya paling ekstrem. Satu kilo kacang hijau, 1 kg beras, 1 kg gula merah, sarden, mie, telor, sayur, frame tenda, dll. Karena tas saya yang paling besar, tentu paling berat jadinya. Di tanjakan pertama, saya sudah ngos-ngosan dan menyerah di 50 meter pertama!!! Memalukan!!

Nyaris 15 menit saya hanya berdiam diri di tempat mengatur nafas, sementara yang lain sudah berjalan di depan. Bahkan yang perempuan juga sudah di depan sanaaaa!! Malukah saya? Saya jawab dengan tegas: tidak! Hahahaha. Dan di tengah ketidakberdayaan saya, Syani menggantikan tas saya. Dan saya cuman membawa tas ransel mini. Ini keegoisan saya pertama.

Di sepanjang perjalanan, SAYA SELALU TERBELAKANG! Bukan karena saya keberatan beban, tapi karena saya tidak bisa adaptasi dengan nafas yang benar-benar menggenjot denyut jantung. Alhasil, sepanjang perjalanan naik, saya adalah tersangka yang membuat perjalanan menjadi lambreett.

#2 Pagi hari di pos 5, karena saya merasa benar-benar capek, saya mbangkong di saat anak-anak pergi ke air terjun dan menonton cowok-cowok mandi massal. Dan saya baru bangun pas anak-anak sudah kembali dengan foto-foto bugil di atas. Selepas sarapan dan selfie ria, kita memutuskan untuk turun hari itu juga karena kondisi tidak memungkinkan untuk ke puncak.

Dan sekali lagi, tas saya yang super berat, harus dipanggul orang lain. Dan korban kedua saya adalah Arsy (yang sering saya bully saat pemberangkatan). 

#3 Ini kejadian pas turun. Saya sudah adaptasi nafas, tapi kaki saya seperti pegas yang kehilangan identitas, gemeteraan akuutt (duch, emang usia nggak bisa boong). Dari pos 5 sampai 2 masih bisa ditahan. Tapi menuju pos 1 sampai titik pemberangkatan, kaki saya seperti mati rasa. Sementara anak lain yang melambat dalam perjalanan turun ada Ugi dan Bibil. 

Ugi karena kaki terkilir, Bibil karena hipothermia. Tanpa rasa kasihan, saya meninggalkan mereka. Dan berjalan terus dan terus, yang penting bisa segera sampai di pos pemberangkatan. Jahat banget kan? Haha.

#4 Di pos 1, kita ditinggalkan oleh Syani, Dio dan Bondan yang mendahuli untuk turun. Sudah jam 5 sore. Akhirnya kita masak, sementara Bibil sudah hyperthermia, menggigil akut. Padahal saya cuman pakai kaos tanpa jaket malah sumuk-en. Saat mie sudah siap saji tinggal makan, di tengah keremangan cahaya, kita melihat ada seonggok benda yang berada 3 cm dari panci mie yang akan kita makan.

Saat lampu headlamp-nya Arsy menyorot benda itu, nampaklah sosoknya. Bukan penampakan mak lampir, kuntilanak atau tuyul, tapi benda itu adalah: S*MP*K! Omooooo...Padahal kita mau makan brooow. Tak sudi memindahkan benda itu, kita memaksakan untuk makan saja. Dan setelah disorot ke jarak beberapa centi, masih ada 2 benda sejenisnya dengan warna yang berbeda. Saya tak perlu memberitahu itu benda milik siapa hahaha. Cukuplah saya dan Arsy yang tahu.

#5 Jam 6 lebih, kita sampai pos pemberangkatan. Di sana sudah menunggu Bondan, Dio dan Syani yang sedang memadu kasih di dalam tenda -.-' 




Sementara Bibil dan Ugi sampai paling akhir, dengan kondisi Bibil yang menggigil akut. Dengan ekspresi melas akut, Bibil saya minta ke dalam tenda saja karena di luar angin cukup kencang. Tak dinyana, muncullah celetukan "Ojo mlebu, engko teles kabeh. Tak gibeng koen". Dan akhirnya, Bibil langsung broken heart dan tak sudi masuk tenda itu untuk selama-lamanya. Sementara peng-nggibeng itu malah nggak peka blas   -.-'

#6 Kita tidak tahu kalau di atas ada gubuk, jadi sepertinya kita menghamburkan uang untuk menyewa tenda. Jadi kita hanya mendirikan tenda hanya sebagai seting foto saja. Dan karena waktu berangkat saya habis diomelin pemilik tenda, saya melimpahkan tanggung jawab mengembalikan tenda kepada anak-anak. Hal itu dikarenakan saya takut emosi jika kena omelan lagi. Bisa berabe hubungan saya dengan Devi nantinya (siapakah Devi? Tanya saya langsung saja ya hehe)

Jam 7 kita langsung cus ke Surabaya. Jam setengah 10 sampai surabaya dengan kondisi kaki yang sudah njarem. Yah, 2 satu malam ternyata sudah bisa sampai 2800 mpdl. Rekor saya sepanjang hayat. Saya berhasil breaking my limit!


Welcome Back to The Real Life
Selamat tinggal Arjuna, maaf tidak bisa menyapamu di ketinggian maksimum. Tapi kita menyimpan keyakinan, suatu saat kita akan bersua kembali. Dan, selamat datang di Surabaya. Selamat datang njaremisasi akut. Dan selamat datang kehidupan yang sebenarnya. 

Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah membantu saya mencoret salah satu mimpi 2014 saya. Dan, selamat datang #Semeru2015