16 Dec 2011

Egoisme



Peci hitam, berpadu dengan kemeja lengan panjang, ia mengendap-endap di pelataran parkiran. Ia, yang juga bersandal hitam dan bersarung itu tidak sedang hendak ke masjid. Rumput-rumput yang melintang di hadapannya, dirajah dari tempat tumbuhnya. Sesekali sampah yang berceceran ia pungut, di masukkan ke tempat sampah, dan kembali merajah rumput, lagi.


Di pelataran parkiran masjid. Ia, seorang kakek dengan ubannya yang mengerubuti kepalanya. Sementara, saya hanya diam, memandanginya dari serambi masjid, yang pasti lebih sejuk dari panasnya pelataran sana. Ego apa yang sedang saya bawa? Hah?

11 Dec 2011

Kejutan!


Sehabis kehujanan, kedinginan dan dalam kesendirian. Ada sebuah pesan singkat masuk ke Hape Nokia 6600 ku, dari nomor yang tidak saya kenal

"Kapan saya bisa ikut mengajar permata di Dolly? Pertanyaan yang muncul di setiap bab membaca buku kalian. Salam kenal Liona di Bengkulu. Sampaikan salamku untuk mereka, adik-adik yang ku kenal"

Ku pandangi layar hape butut ku yang tadi sempat error keypad-nya. Subhanallah yah, saya termotivasi dengan kalimatnya. Saya membalas segera pesan singkat itu. Kita berkenalan dan berdiskusi sejenak, mendekati jam "larangan", jam sembian malam.

Dia seorang mahasiswi jurusan Jurnalistik di Universitas Bengkulu, semester lima. Mungkin ia tertarik dengan buku ini karena dia pun melakukan hal yang sama, hanya beda tempat. Bahkan, mungkin juga di waktu yang sama, kita melakukan hal yang sama. Entahlah.

"Ikut program Indonesia Mengajar juga?" ia bertanya ringan.

Ah, pertanyaan ini. Sudah berapa puluh orang yang menanyakan. Program yang digagas Anies Baswedan ini secara pribadi (jujur) membuat saya ngiler seember untuk mengikutinya. Namun realita berkata lain, ada hal lain yang tidak bisa saya rengkuh bersamaan dengan program ini. Saya berkeinginan, berminat, dan setidaknya ada niatan, tapi saya memang harus realistis, memilih jalan yang seharusnya, bukan yang saya inginkan. Saya tidak bisa ikut IM. Titik.

"Realita tidak mengijinkan, tapi siapa tahu Allah mengijinkan?" ujarnya.

Entahlah. Wallahu'alam bishowab.

9 Dec 2011

Mereka Telah Beramal Nyata


Tulisan ini copast dari salah satu grup fb, hanya sebagai motivasi untuk berkarya dan menulisa. Cekidot!


By: Decka V. Ginanjar*

Rasa penasaran ana kini terjawab sudah. Sore itu ana sengaja meluangkan waktu untuk mencari buku itu. Setelah solat Ashar, dan sembari menunggu waktu buka puasa (9 Muharram), ana langsung menuju Gramedia di jalan Basuki Rahmad. Tidak terlalu lama, buku itu berhasil ana dapatkan, dibantu oleh seorang karyawan Gramed. Setelah membayar, ana langsung mencari tempat duduk dan langsung membaca buku itu. 

Membuka lembar pertama dari buku itu aku menemukan kalimat ini, Thanks to: KAMMI, Pak Kartono, Para Pengajar Taman Baca Kawan Kami, dan Orang-orang yang berjuang memberantas prostitusi. Membaca lembar ini, ana merinding bercampur haru. Ana mulai membaca buku itu lebih dalam lagi. Membaca lembar –lembar selanjutnya, memunculkan rasa haru bercampur rasa bangga dalam diri ku. Tulisan itu masuk menyetuh hati . 

Dan perasaaan itu semakin tak terbendung ketika melihat beberapa foto nyata dalam buku itu. Tak tahan rasanya , aku pun meneteskan air mata ditengah ribuan buku dan orang-orang yang berlalau-lalang di dalam Gramed.

Permata Dalam Lumpur (Merangkul Anak- anak Pelacur dari Lokalisasi Dolly), inilah buku itu. Buku yang ditulis oleh akh Satria Nova dan Nur Huda ini adalah kisah nyata yang inspiratif. Mereka mengungkap kisah orang-orang yang terjebak kedunia hitam. Kisah memilukan para pelacur dan mucikari. Kisah anak-anak setempat yang terancam hancur dan rusak masa depanya. Dan para relawan (khususnya kader KAMMI Surabaya dan aktivis mahasiswa dari ITS) yang berusaha ikut memberikan perubahan atas ketimpangan social yang terjadi di Dolly. Sebelum membaca buku ini saya telah banyak mendengar laporan pahit manisnya kondisi disana. 

Kondisi pengajar, kondisi anak-anak yang dibina, hingga kegiatan yang mreka lakukan. Tapi itu hanya “ana dengar” , ana belum melihat kenyataanya. Tapi kini…. buku itu tlah menjawab semua rasa penasaran saya. LSO Lentera Harapan yang kini masih dibawah koordinasi KAMMI Daerah Surabaya juga menjadi salah satu judul BAB dalam buku ini. Sungguh menyesal rasanya, jika dulu usul (baca:pendapat) saya, ”LSO Lentera di bubarkan saja” dalam forum musda dan forum- forum sebelumnya, benar-benar disetujui.

‘Ala kulli hal, saya ingin menyatakan. Buku ini recommended..!, sangat layak di baca oleh kita maupun walikota. Mereka telah berkontribusi nyata. ! Selanjutnya adalah siapa….? Semoga kita. Ana sampaikan penutup: Mari ber-Amal Nyata!

*Pengiat KAMMI Daerah Surabaya

6 Dec 2011

Dialog-plak!

Sebuah dialog ringan yang ingin saya cantumkan dalam blog ini. Semoga menghibur eaaa...

Adegan Pertama
Saya    : Ayo boi, carikan tutup botol minuman berkarbonasi.
Teman : Nggak usah Mas, adik-adiknya saja yang disuruh bawa sendiri dari rumah.
Saya    : Oh ya , baguslah. Nggak usah repot-repot. Di sana kan ada banyak tutup botol.
Teman : Iya Mas.
Saya    : Ya, tutup botol bir.
Teman : Hahaha...Iya, nanti disuruh nyuci dulu sebelum dipakai.
Saya    : Wah, ada gunanya juga tumpukan krat Bir di sana (mbatin).


Adegan kedua
Teman : Ayo segera! (sementara saya masih di jalan)
Saya    : Iya...Ini saya bawa rombongan.
Teman : Berapa orang?
Saya    : Enam orang, seperti mau demonstrasi. Rame sekali. 
(padahal niat hati ingin mengajar, kok saya berimajinasi pada kata "demo"?)

Apresiasi

Pagi hari, perut saya sudah tidak beres dari tiga hari yang lalu. Niatnya mau shoum tapi dipaksa keadaan, mungkin sampai akhir desember saya bakal tidak bisa puasa sama sekali :'(

Eh, pagi ini saya dapat SMS yang cukup mengejutkan. Dari salah seorang saudara laki-laki, yang sebelumnya tidak saya kenal sama sekali. 

"Kemarin ana baca buku antum dan Akh Nova. Menarik sekali. Air mata ana pun menetes....."

Wah, subhanallah yah. Saya jadi ikut terharu. Ah, saya berharap, semoga tulisan "ababil" saya di buku itu bisa menginspirasi orang untuk beramal kebaikan. 


*) itu SMS dari Sekum KAMMI Daerah Surabaya

28 Nov 2011

Lifespan Development


Hidup itu seperti rutinitas untuk mengisi dunia di antara dua hal saja: hidup sampai mati. Titik. Tinggal bagaimana warna hidup itu bisa membingkai masa sempit di dunia ini menjadi hal yang menarik, dan tentunya bukan sekedar satu warna rutinitas yang monoton.

Seperti pagi ini, mungkin sudah menjadi takdir saya yang harus seperti ini. Toh, saya sebenarnya juga tidak terlalu mengeluh dengan nasib ini. Agenda setiap minggu saya adalah membersihkan seluruh rumah seorang diri. Mirip pembantu rumah tangga, hanya saya punya shift wajib hari minggu. Mulai dari menyapu, ngepel, cuci piring, sampai ngatur-ngatur barang yang sangat berantakan –karena tidak pernah dirapikan selama sepekan. Hitung-hitung olahraga pagi, mengingat rumah ini lumayan melebar. Berseni bukan?

Kedua, saya ke pasar. Sudah menjadi hal biasa bagi saya, berbelanja sayuran atau lauk mentah untuk keperluan masak. Hari ini: kangkung, lombok abang, pencit dan ikan pindang. Sisanya masih ada stok di kulkas, begitu kata juru masak rumah ini alias tante saya. Oke, budhal bareng adik.

25 Nov 2011

Kala Delusi



Ini adalah saat mata melihat semua hal dengan fatamorgana penuh. Saat otak bisa berpikir tentang semua hal yang tidak nyata. Kala tangan bisa menyentuh benda, tapi tak bisa dirasakan. Saat nafas masih menghirup udara bersama zat biusnya. Kala jantung berdegub bersama detakan heroin. Kala kesadaran tertindih halusinasi. Inilah saat ini, hari ini.

Saya tidak mampu merasakan hembusan nafas dari tadi. Juga depakan kaki saya di atas mesin ini. Tak pula dengan tonjokan ringan ke bagian atas muka saya. Juga tidak dengan hembusan malam yang dingin ini. Saya tidak bisa merasakan, mana bau aspal, mana bau kasur. Semua nampak samar. Hingga tiba-tiba kendaraan beroda delapan tepat berada satu meter di depanku. Ia mengageti saya. Tapi itu pun tidak lama. Saya kembali berhalusinasi lagi.

Tangan saya bergetar hebat. Kaki saya kejang-kejang tidak karuan. Punggung saya seperti kesetrum. Mata saya tidak bisa diajak koordinasi untuk berakomodasi. Perut saya menjadi biduan malam. Otak saya sudah lari entah kemana. Sementara tubuh saya masih berada di atas kuda besi ini. Masih 30 kilometer di depan sana. Masih jam 10 malam.

Hari ini. Inilah sebuah malam dengan delusi tingkat dewa.

Tengah malam, 24 Nov

20 Nov 2011

Gado-Gado Gallery

Hari ini dipenuhi dengan agenda jalan-jalan. Diawali dengan pagi-pagi saya harus bersih-bersih rumah (agenda rutin akhir pekan). Lanjut ke DTC beli bedcover yang memakan waktu hampir sejam setengah. Ngampus. Terus ke Nikahan Mbak Indah. Ke DetCon. Osowilangon. Dan terakhir ngampus lagi nonton bola, hehe.

Sholat Dzuhur di Manarul Ilmi, Ashar di mushola PTC, maghrib di Masjid Muhajirin Pemkot, Isya di Baitul Muttaqin Keputih. Keyeen :)


Itu bawa karung apa mbak? haha 

Senyum terlebar = akan segera menyusul :D 



Ngintip akhi-akhi di depannya, hehe 



Muis nyari pasangan buat kucingnya :P 

Nah lho, kucing hamil saja masih diembat 

Mbak indah, so sweet..

pose sebelum manggung 


Jarang lihat pose nanda kayak gini, hehe 


mau kondangan :) 

13 Nov 2011

KuMoet (Kutipan Moetiara)


Dikutip dari grupnya Ustadz Soehardjoepri

Pernahkah...


Kau berada dalam situasi yang buntu. Semua terasa begitu sulit. Begitu tidak menyenangkan hambar. Kosong. Bahkan menakutkan?



Itu adalah saat di mana Allah mengijinkan kamu diuji, supaya kamu menyadari Keberadaan-Nya dan Alloh ingin mendengar rintihan dan doamu. Karena Alloh tahu kamu sudah mulai melupakan-Nya dalam kesenangan (QS 47:31 , 32:21)


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari grup KPSI

Nobody can go back and start  a new beginning, but everyone can start today anda make a new ending -Maria Robinson

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Seperti apa pun  hari ini, semoga Allah tetap mengusap lembut hati kita, menjadikan kita bagian dari barang-barang yang berjiwa tenang. Yang kelak akan datang pada Allah dengan wajah bercahaya. 

Semoga hari-hari kita diwarnai kasih sayang-Nya. Dan setiap peluh dinilai sebagai pemberat amal kebaikan. 

12 Nov 2011

Sabar yo Hud!



Lima belas meter di depan sana. Satu bangunan berlantai enam itu nampak sudah menjadi rumah kedua saya. Kakiku melangkah pelan. Pelan sekali. Hingga enam belas langkah, nafas itu masih menggebu. Hingga entakan kaki ketujuhbelas, semuanya runtuh. Air mata saya tumpah. Kunang-kunang di depan mata menari. Memutari pandangan ku yang terulas menuju birunya langit.

Pernahkah anda merasakan kepasrahan total dengan kehidupan? Saat semua energi, usaha dan do'a yang anda curahkan tidak menghasilkan apa pun? Saat harapan tinggi yang anda usung, tak secuil pun terwujud? Kala semangat anda harus beradu dengan realitas yang menggilas total heroisme itu? 

Kondisi itulah yang sedang saya alami hampir mendekati tiga bulan terakhir. Saya sedang frustasi akut. Mendiamkan begitu saja sebuah masalah yang super besar, tergeletak begitu saja. Urusan yang berkenaan dengan hidup-mati saya. Hal yang berimbas pada sisa hidup saya di dunia, juga tentang akhirat yang penuh misteri itu. Tentang masa depan, tentang banyak orang, tentang keabsuran duniawi-keabadian. Kompleks.