8 Nov 2010

My Favorite Song

Petuah Hati - Jamus Kalimasada




Sandarkan lelah hari
Hilangkan duka kala
Kau terluka
Pedih hati

Tak selamanya indah
Kini mungkin akhirnya
Saat duka
Saat lara

Yang sudah berlalu biarkanlah sudah
Tak perlu sesali jangan kau tangisi
Jika asa dan bahagia tak kau rasa
Dengarkanlah dan rasakanlah

Kicau burung berdendang
Nyanyian alam
Riuh bersahutan
Betapa merdunya

Coba lihat dan renungkan
Langit garis tangannya
Hamparan samudra
Betapa indahnya

Percayalah
Kau dalam lindungan cinta
Maha segala Maha

2 Nov 2010

Tiga Hari Mencari Kesabaran



Malam itu, saya tidak bermimpi bertemu dengan Nyi Blorong di kediamannya Pantai Selatan. Juga tidak berharap bertemu Grandong  saat tengah malam setelahnya. Apalagi berkeinginan untuk menjamu Mak Lampir. Namun semuanya terlihat aneh. Entah mengapa. Tiga jam sebelumnya, saya juga tidak makan petai sama sekali. Tidak ada yang ganjil dengan pribadi saya. Juga dengan teman-teman saya. Justru saya bersama dengan dua ustadz muda. Yang kalem-kalem dan tidak banyak tingkah, tidak seperti saya. Tapi tiga hari itu adalah momen mistis. Absurd.
******
Ting….Tung….
“Kereta Kertajaya segera berangkat,” suara dari pengeras suara seberang sana.
“Itu masih lima menit lagi Mas,” ujar petugas parkir di samping saya.
“Apa?,” sontak saya kaget bukan kepalang.

Kaki saya berhamburan(sejak kapan kaki bisa berhamburan?). Palang parkir dan selokan dengan sopan saya terobos walaupun ada pintu keluar untuk orang-orang normal. Lima menit itu kritis. Saya masih di luar peron. Tidak membawa tiket kereta pula. Dan saya juga tidak tahu dimana keberadaan dua teman saya. Namun pikiran saya masih bisa diajak kompromi. Bingung namun tidak sampai kalut.

23 Oct 2010

Menciptakan Teknolgi Hijau di ITS



Kalau boleh membandingkan, menulis opini seputar teknologi itu jauh lebih menantang daripada tema lain. Selain karena status saya masih mahasiswa yang cekak dalam ilmu, alasan paling rumit adalah tantangan membahasakan bahasa jurnal menjadi bahasa umum. Dari bahasa langit menjadi bahasa bumi, peribahasa ciptaan saya. Jadi jangan kaget jika tulisan ini cenderung tidak tahu aturan. Karena tidak menganut tata aturan penulisan laporan praktikum.

Secara sadar, isu tentang Global warming dan krisis energi bukan hanya menjadi gosip hangat untuk sekedar dibicarakan. Oleh karenanya, gosip yang semakin panas itu harus segera didinginkan. Tidak hanya bagi orang yang berkuasa namun bagi semua makhluk yang merasa hidup di Bumi. Juga bagi para ilmuwan dan insinyur. Karena efek yang dirasakan juga serupa roller coaster bencana bagi penghuni planet ini. Beruntun dan tak kenal wilayah.

Rasanya aneh sekaligus menyeramkan tahun ini kita tidak merasakan musim kemarau. Untung saya kuliah di Surabaya, musim hujan menjadi penghapus dahaga. Teringat kemarau Surabaya empat tahun lalu, menjelang jam 11 keatas, bangku kelas pun serasa kasur. Tapi apa kata nelayan? Musim hujan adalah diskon penghasilan. Atau bahkan musim tanpa penghasilan. Dan menurut Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), fenomena ini akan berlangsung sampai puncaknya tahun 2012. Wow, Surabaya harus siap-siap kebanjiran tiap bulan.

22 Oct 2010

In memoriam of IMIC 2010

 Bu Risma, Walikota Surabaya membuka acara


 Bu Risma menelusuri karya Mahasiswa Finalis



Ini dua sohib saya, saya menjad fotografer mereka :)

Wuih, arek-arek tahu aja kalau ada kamera


Bu Risma ini Walikota yang superwoman


Ini saya, rekan setim bersama teman-teman dari Mesin :)


Duh, mesranya Ayudi sama Filbert


Yudis, Andra dan Ayudi


Waktu Presentasi Alternative Energy Competition (AEC)


Qowim feat Devi


Pak Witantyo mengunjungi stan kita 


 Mirza sok-sokan serius ^_^


Kosep Futuristic Vehichle Comp (FVC) salah seorang peserta


Waduh, lali jenenge Juri iki -.-'


Pas Penyerahan Hadiah semua kategori


Nggak nyangka, bahkan sampai di panggung pun tidak sadar kalau juara 1,hehe


Bersama semua juara kategori AEC


Saya menjadi peserta bersama rekan-rekan :)

21 Oct 2010

Dari Tantangan Walikota Berbuah Kemenangan


Satu lagi terobosan karya mahasiswa ITS tentang energy terbarukan. Dalam ajang Indonesian Mechanical Innovation Competition (IMIC) 2010, dua karya mahasiswa ITS menborong juara I dan II dalam kategori Alternative Energy Competition (AEC). Melalui sebuah mini power plan (pembangkit listrik, red) tiga mahasiswa Teknik Mesin ITS, Nur Huda, Dody Vicktorio Fanta dan Mirza Ghulam Indra Laksana ini mendapat tantangan dari Walikota Surabaya untuk memecahkan persoalan sampah Surabaya.

   
Kampus ITS, ITS Online - Wajah tiga mahasiswa ini terlihat berkerut memikirkan jawaban yang akan dilontarkan. Karena yang menanyakan bukan sembarang orang, dia adalah orang nomor satu di kota Surabaya, Ir Tri Rismaharani MT. Walikota yang akrab disapa Risma ini menantang agar alat yang mereka buat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan sampah kota Surabaya. “Bagaimana kalau sampah seluruh Surabaya kalian urus dengan alat ini?,” ujar Walikota yang juga alumnus ITS tersebut.

Sementara itu Prof Dr Ing Ir Herman Sasongko, Ketua Jurusan Teknik Mesin memaparkan sebenarnya bisa diterapkan namun biayanya akan sangat mahal untuk pengelolaan sampah di kota sebesar Surabaya. Herman mengatakan, diperkirakan butuh dana lebih dari 500 juta untuk menwujudkannya. “Apalagi yang masih kita lakukan baru skala labolatorium,” ujar Mirza Ghulam Indralaksana, salah satu anggota tim.

Cukup beralasan Walikota Surabaya tertarik pada alat inovatif tersebut. Menurut mahasiswa angkatan 2007 ini menjelaskan, alat yang mereka kembangkan merupakan sebuah alternatif dalam pengolahan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan cara membuat sebuah mini power plan, alat yang dinamakan Wazer (Waste Electric Energyzer) mampu mengubah sampah menjadi listrik. “Selain menjadi sumber pencemaran udara, bau dan sumber penyakit, sampah juga menjadi persoalan kota yang serius,” imbuh mahasiswa asal Malang ini berargumen.

25 Sept 2010

Lebaran Itu...



Niat hati memborong segudang daftar tugas yang bisa saya kerjakan selama lebaran kali ini.  Nyatanya tidak sampai separuh bisa saya selesaikan. Selalu ada saja alasan untuk melepaskan diri dari rutinitas dan kepenatan kota Surabaya. Waktu lebaran sepekan di rumah sendiri begitu berharga. Melahirkan banyak inspirasi dan kesadaran diri untuk senantiasa melangkah. Ini adalah seruas kisah ku selama lebaran 1431 H. Sederhana namun semoga bisa bermanfaat.

Halal bi halal. Momen rutinitas namun selalu ditunggu setiap umat muslim Indonesia. Tidak berbeda pula dengan seluruh umat muslim dari Sabang sampai Merauke, saya pun juga turut berlalu lalang dari rumah satu ke rumah sampingnya. Jika di masa kecil saya harap-harap cemas seberapa banyak uang yang bisa ku kumpulkan, menjelang gede saya menghitung seberapa kuat kaki ku melangkah ke rumah saudara ku.

Alasannya sederhana, saudara saya terlampau banyak dan hanya berkutat di dua desa. Dari Bapak ada 10 Pak-Bu Lek dengan 22 sepupu dan 13 keponakan. Dari Emak ada 5 Pak-Bu Lek dengan hanya seorang keponakan. Itu belum termasuk mertua dan saudaranya kakek dan nenek yang mbuletisasi. Juga belum saudara kakek dan nenek dari Mbah yang sama. Kalau diruntut detail silsilahnya sampai 4 sampai 5 generasi teratas, saya hanya bisa terperangah sambil manggut-manggut kebingungan. Dijelaskan berkali-kali juga tetap saja bingung, terlebih untuk menghafalkan nama, nyerah. Menghafal nama keponakan saja sering tertukar.

Jadi kalau seluruh keluargaku dikumpulkan menjadi satu, dua rumah pasti tidak cukup. Harus antre kalau mau ke rumah kakek/nenek. Atau kalau tidak mau, lantai rumah siap menampungnya. Dari sini saya harus pinter-pinter memilah kemana kaki ku harus melangkah sebelum terkapar karena capek dan panas. Butuh dua hari untuk thowaf dua desa tersebut. Itu pun masih ada saja yang tidak saya kunjungi. Lupa. Payah kan?


18 Sept 2010

Ramadhan di Dolly (#feature edition)


Jujur saya cukup tergugah oleh tulisan saudari Lisana tentang opini buka bersama bulan Ramadhan bersama  Sanggar Alang-Alang. Niat awal ingin menyajikan kisah Ramadhan di Dolly ini dalam bentuk berita dengan model tulisan feature yang bersambung di website ITS. Namun justru malah menjadi tulisan yang  tak tahu aturan. Cukuplah tulisan ini menjadi tumbal daripada tidak ada tulisan sama sekali. Semoga bermanfaat.
*****
Musim kemarau. Matahari kota Surabaya sedang tidak hobi tersenyum. Terlebih jika jarum jam sudah merangkak diatas angka 10. Suhu yang senantiasa diatas 30 derajat Celsius setidaknya sudah cukup membuat orang malas keluar rumah. Tidak mengherankan karena ramadhan tahun kemarin saja, suhu kota pahlawan mencapai titik maksimum melewati rekor 35 derajat. Cobaan untuk orang yang sedang berpuasa. Juga menjadi nikmat untuk tidur siang hari.

Kaki kecil itu justru melangkah terus. Melawan aspal jalanan yang menggeliat, memuai tak beraturan. Menapaki jengkal demi jengkal kilometer jalan. Kira-kira 30 menit dari kampus ITS Sukolilo. Cukup jauh untuk skala perjalanan mahasiswi. Nyatanya gempuran panas hari itu tidak cukup untuk melelehkan semangatnya demi menemui malaikat-malaikat kecil di sudut kecil kawasan prostitusi Dolly.

Kegiatan sosial rutin setiap hari minggu masih tetap berjalan walaupun ramadhan telah tiba. Bahkan saat masa liburan panjang mahasiswa, aktifitas ini tetap berlangsung. Memilah antara hasrat pulang kampung, suksesi himpunan, raker, musyker, rapat, kerja praktek, kerja dan aktivitas kampus lainnya. Memang tidak banyak jumlahnya namun senantiasa ada jalan tambah sulam selama setahun lebih kegiatan ini berlangsung.

“Saya suka dengan anak kecil,” sebuah alasan sederhana dari seorang pengajar, begitu kami biasanya menyebut setiap mahasiswa yang rela menjadi relawan sosial di sini.

4 Sept 2010

Air Mata Laki-Laki



Salahkah jika seorang laki-laki menangis? Jika iya, adakah alasan logis yang bisa diterima semua orang? Jika tidak, mengapa semua perempuan membenci laki-laki yang menangis?
*****
Dia tidak menangis. Juga tidak sedang ingin menangis. Setidaknya, guratan wajah serta sorot matanya sudah cukup menjawab teka teki itu. Polah tingkahnya juga sangat lincah, dinamis. Tidak ada pula ada perubahan dengan logat bicaranya. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia sedang membendung air mata. Senyum simpulnya. Ceria bersama raut muka yang teduh.

“Terima kasih mas atas kedatangannya. Gimana kabar teman-teman? Naik apa ke sini?,” tanyanya singkat.

“Alhamdulillah, sehat selalu Don. Ini tadi rombongan naik sepeda motor, takut macet di Porong kalau bawa mobil. Kabar Ibu gimana?,” jawab Adam, pimpinan rombongan kami.

2 Sept 2010

Bermalam di Dolly



Akhirnya saya bisa mewujudkan impian saya. Harapan yang sempat ditentang oleh beberapa kawan saya. Cukup ekstrem dan tidak mengindahkan adat manusia normal. Takut terjadi hal-hal yang diingankan sekaligus hal yang tidak diingankan. Ibarat ibu hamil yang ngidam, tindakan ini merupakan obsesi komplusif bersama dengan teman sejawat saya terdahulu (sekarang dia harus merantau). Tahu apa itu kawan? “Bermalam di Dolly”.

Yachhh… Akhirnya saya bisa bermalam di Dolly kawan. Menikmati setiap jengkal nafas kehidupan di sini. Tapi jangan berfikir yang iya-iya lho! Saya berhasil ke sini karena saat itu masih bulan Ramadhan. Jadi tak satupun wisma dan tempat karaoke buka. Semua bisnis esek-esek dan hiburan di sini diliburkan total. So, jangan harap akan menemui gempita perempuan jalang dengan pakaian minimnya atau pun lelaki hidung belang di sini. Di sini, tenang sekali. Sama seperti daerah kampung di belahan kota Surabaya.

Tahukan kamu kawan? Obsesi komplusif saya adalah mengunjungi “kedai malam” ini saat hari biasa. Ikut masuk ke dalam dunia mereka. Menyusuri tiap lekuk, jengah, panas dan dinginnya wilayah otonomi khusus ini. Ikut hadir dalam kehidupan mererka. Menjadi mereka. Menjadi anak-anak yang setia ikhlas menyaksikan dunia kecil dan gemerlapnya klakson hiburan di sekitarnya. Yo opo critane arek cilik urip nang daerah koyok ngono?


24 Aug 2010

Ramadhan di Dolly



Cerah. Pagi ini berseri. Lewat buaian semangat pagi, saya memulai hari ini dengan model puasa minus. Ku awali jengkal waktu hari ini dengan aksi bungkam mulut. Di tengah krisis energi yang sudah merajalela, saya pun harus turut hemat energi. Terlebih sekarang bulan puasa. Kalau saya berkoar-koar terus, kasihan setiap serangga yang lewat di depan mulut saya. Bisa tewas mengenaskan akibat racun sianida “bau mulut”. Tentu saya tidak mau menambah dosa lewat cara tak berperihewani seperti itu.

Tapi semua itu hanya bualan semata. Hari ini saya sengaja memilih puasa bicara karena mulai bada dzuhur nanti saya harus mengeluarkan segala kemampuan nyerocos saya sampai menjelang tarawih. Ya, hari ini ahad ceria. Waktu bertandang ke kawasan favorit kaum adam, Dolly. Ini bulan puasa, jadi jangan dipikir yang iya-iya. Lho?!. Taman Baca, ini destinasi mingguan saya bersama dengan rekan-rekan senasib sepenanggungan. Mencoba mengukir pahatan artistik batuan cadas di tengah kelamnya lautan lumpur. Walaupun kami sadar tak mampu selihai Michaelangelo, tapi kami senantiasa mau berusaha dan berharap.

Hari ini seperti biasa akan kami semua akan berdiskusi ria sambil belajar dengan adik-adik di Taman Baca. Yang membuat agak special adalah ini merupakan hari perdana ekspansi kawasan binaan akan dilaksanakan. Tepatnya di kawasan TPA yang konon menurut sejarah merupakan kawasan Bandar narkoba terbesar se-Dolly. Plus akan ada buka bersama dadakan. Serba dadakan karena info buka bersama hanya diberitahukan 36 jam sebelum acara. Praktis, menejemen gradakisasi harus diterapkan lagi. Bukan system ngawur namun lebih mencari kecepatan bertindak dan responsibility yang akurat. Cepat tanggap.