7 Aug 2014

Hikayat Dusta



Jiwaku terperangkap dalam sebuah ruangan tak berpintu. Putih sempurna hingga tak menyisakan batas utopia dan angan sejatinya. Pelan, ia menerobos masuk bak embun pagi memeluk pegunungan. Menyesaki tarikan nafas sampai alveolus terdalam.

Dus. Histeria itu menyeruak ke alam fana. Merobek peneduh alam durja. Meruntuhkan genggaman iman atas masa. Lalu, ia datang mendekat. Membisikkan rangkaian kata masa silam. Tentang awal dari hikayat dua insan.

Ragaku masih di ruangan ini hingga kisah itu usai bertutur sendiri. Namun jiwaku goyah. Ia terpekur dalam polah imajiner amfethamine-nya sendiri. Menyatu atas diam yang abadi. Memaku waktu.

Kisahku tidak berakhir di sini. Karena lisanku menyisakan satu tanya menjelang tamat. Inilah pemberhentian tragedi dan perkuburan atas kenangan. Inilah perjanjian itu, yang pernah ku suarakan dalam mimpi. Persekutuan tanya yang tak terbalas.

Masih di sudut ruangan putih ini, izinkan aku bertanya pada masa lalu.

"Apakah dia itu kamu?"


-Tuban, 3 Agust 2014

19 Jul 2014

Super-ego-sentris

"Saya bisa bersahabat baik dengan orang yang pernah memarahi serta melemparkan gelas ke ke kepala saya"
Itu ungkapan dari pembina di kantor saya. Kisah nyata. Bukan sinetron. Namun, saya hanya bisa menggeleng hampir tidak percaya. Bagaimana saya bisa berbesar hati sejauh itu? 

Hatta..

Tadi saya habis sholat tarawih. Nah, imamnya itu qiroah-nya sangat lama sekali. Saking lamanya, bahkan sampai saya hitung waktunya. Hasil menunjukkan 7 menit per dua rakaat. Nah, kelihatan kalau saya sholatnya tidak khusyu' kan? Memang! *ngaku dosa*

Sebenarnya saya lebih suka imam yang bacaannya lebih lama dari pada lebih cepat, kalau tidak mau dibilang sangat cepat bin dikejar *njing. Namun, kejadian tadi sangat mengganggu konsentrasi saya. Tepat di depan saya itu ada orang dengan (maaf) kaki polio, jadi harus sholat dengan ditopang satu kaki saja. Saya saja yang masih muda, kaki saya selalu kram setelah sholat dengan model durasi seperti itu. Lha bapak itu bagaimana?

Lalu, pas sholat witir. Di depan saya ada bapak dengan kondisi sangat ringkih, dan kelihatan sekali sangat memaksakan untuk bergerak dari sujud-berdiri. Dan ini terjadi dengan ritme sejak 7 menit kali 4 yang lalu. 

Terus (saking semangatnya cerita), qiroahnya sangat keras sekali. Bahkan sampai suara dari soundnya pun tidak bisa mengimbangi nilai desibel dari sang Imam. Sampai menggelegar cempreng seperti over-louder. Memang bacaannya bagus, namun saya semakin tidak konsentrasi dengan volume yang seperti suara sound kondangan. 

Su'udzan saya ini sangat menumpuk bak upil di hidung *kemproh*. Apa ya tidak sadar imamnya bahwa yang diimamin itu mayoritas ada sesepuh yang sudah manula. Dan juga ada orang cacat, atau mungkin ada musafir yang ingin bergegas menuju tempat lain.

Dan lagi-lagi saya mengumpat dalam hati, pas ceramah dengan entengnya imam memaparkan bahwa banyak yang mengeluhkan lamanya sholatnya namun hanya ditanggapi dengan kalimat bahwa niatnya mengajak untuk berdzikir yang lama (ngomong dengan nada sinis banget dan seakan kita itu memang amatiran ibadahnya). Wooowww..luar biasa sekali entengnya. Apa beliau tidak pernah mengamati siapa makmumnya? Ada yang sakit atau tidak? Yang sebagian besar usia muda sudah hilang sebelum witir?

Sejatinya Rasulullah sendiri sudah memberikan teladan sebagai berikut:

Dahulu di zamanya para sahabat, ternyata shahabat Muadz bin Jabal pernah di protes ketika beliau bertindak sebagai imam, bahkan diantara makmum nya ada yang mufaraqoh (memisahkan diri).
Karena pada waktu itu beliau membaca ayat yang panjang-panjang. Kemudian bagaimana reaksi Rasulullah ketika mendengar hal itu?. Kemudian Rasulullah menegur shahabat Muadz: “Hai Muadz, Janganlah kamu menjadi tukang fitnah; di belakangmu ikut bersembahyang orang yang sudah tua, orang yang lemah, orang yang punya hajat, dan musafir”
Dalam riwayat lain disebutkan shahabat Abu Mas’ud Al-Anshari r.a berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, saya sungguh kurang bersemangat berjamaah shalat Shubuh, sebab si “Anu” kalau mengimami shalat lama sekali”.
Maka belum pernah aku melihat Nabi saw marah dalam khotbah beliau seperti saat itu. Beliau lalu berkhotbah, “wahai manusia, diantara kalian ada orang-orang yang suka membuat orang lari. Maka, barang siapa mengimami jamaah hendaklah tidak berpanjang-panjang; dibelakangnya ada orang tua, ada orang lemah, dan ada orang yang punya sesuatu hajat”.
Sang imam saya akui hebat sekali dalam banyak hal, namun saya tidak setuju jika standar ajakan beribadah itu dipaksakan merata kepada semua jamaah. Dipukul membabi-buta. Dalam perspektif yang saya dapatkan selama ngaji di desa dan juga liqo di surabaya, urusan ibadah yang sifatnya pribadi silahkan digenjot maksimal. Namun jika itu ibadah yang sifatnya komunal, perhatikan dulu siapa saja jamaahnya. Sehingga sang Da'i bisa memetakaan karakter ibadah sehingga bisa menentukan level tingkat ibadah jamaahnya dan juga memahami tingkat pemahaman terhadap islamnya.

Jangan sampai ajakan beribadah secara maksimal justru malah membuat jamaah menghindari, dan semakin berkurang. Apalagi terhadap jamaah yang masih baru dan awam dengan masjid, apalagi buat yang masih fobia dengan Islam (walaupun sudah ber-KTP Islam). Agaknya percuma mengajak sholat berlama-lama, namun hatinya tidak di situ. Bukankah ketauhidan itu jauh lebih penting sebelum membangun bangunan ibadah?

Sebenarnya, kejengkalan saya ternyata membuatkan segalanya. Ketidaksukaan saya terhadap Sang Imam membutakan semua hal positif dari beliau. Dan, saya baru menyadarinya setelah pulang tawarih. Saya sering sekali mengalami hal ini. Susah untuk berlapang dada terhadap kesalahan orang lain (yang saya lihat dari perspekstif pribadi). Hal ini berlaku untuk semua orang, bahkan untuk sekaliber Imam Masjid sekali pun. Mianeee T.T


Dan sampai detik ini, jika kalimat pertama dari tulisan ini terjadi pada (kepala) saya, maka akan ku lempar golok ke leher orang itu (???) Atau lempar granat dan TNT 5 ton!   *sarap*

Nantikan kelanjutannya :)

16 Jul 2014

Rumitnya Das Capital

Judul Buku: Das Capital untuk Pemula






Adooh, buku ini walaupun dari judulnya tertulis bagi pemula, tapi isinya tetap saja ribet, seribet buku aslinya. Yah, walaupun (lagi) dibumbui dengan grafis dan karikatur yang lucu, tapi tetap saja sangat susah untuk dijelaskan bagi pemula -termasuk oleh saya.

Jadi, kurang lebih seperti ini yang berhasil saya fahami. *dudukmanis*

Sistem perekonomian dunia dahulu kala, jauh sebelum revolusi Industri bergema di Eropa, terdapat suatu sistem yang dikemukakan oleh teolog beranama Karl Marx. Ideologi ini kembang kempis dari awal buku ini diterbitkan sampai pada saat dunia sosialis sedang jaya-jayanya bersama Uni Soviet.
 
Hatta, Das kapital lahir bersamaan dengan revolusi industri yang melahirkan sistem mandor-buruh dengan kapitalismenya. Dalam perjalannya, kedua ideologi yang saling timpuk ini sama-sama punya penggemar, penganut dan pemujanya. Dari kalangan teolog, ekonom, rakyat jelata, sodagar sampai negarawan.

Karena ini buku idelogi, jadi maafkan saya kalau nanti ada tulisan yang sangat tidak jelas. Karena mayoritas saya tidak faham, hahaha.


Karl Marx itu beranggapan pada suatu dasar fundamental pembentukan sistem perekonomian dunia yaitu jual beli. Entengnya, hal ini diilustrasikan tentang penilaian dia terhadap suatu barang yang biasa dijual-belikan. Misalkan roti. 

Roti bagi orang zaman dahulu dinilai sebagai bahan makanan untuk mengenyangkan perut. Sebagai kebutuhan pokok pemenuh kebutuhan biologis seseorang. Oleh karenanya, jika ada orang yang ingin mendapatkan roti namun dia tidak bisa membuat roti, maka roti bisa dibeli senilai dengan NILAI FUNGSINYA. Bagaimana membarter roti dengan singkong, misalkan? Maka dilihat dari niai fungsi dan bagaimana proses pembuatannya.

12 Jul 2014

Jejak Politik Soekarno Versi Timur

Parah! Ada suatu masa dimana saya tidak membaca buku sama sekali. Rasanya? Kayak orang ketindihan truk, diam tak bergerak. Ada suatu masa saya merasa sangat sok sibuk sekali, sampai saat otak saya sudah tertindih pun, saya merasa tidak merasa bersalah sama sekali. Hingga tiba di suatu masa, saya menjadi nyaris kehilangan otak kanan. Tak mampu berimajinasi.

Parahnya lagi, dengan target membaca 20 buku dalam setahun, pertengahan 2014 ini saya hanya membaca 6 buku ajaahhh . Bahkan pernah saya dua bulan tidak minat baca sama sekali. *janganditiru*

Daripada saya menyesali berlebihan, bulan ini saya targetkan untuk membaca tiga buku. Mumpung libur ada banyak sekali dan waktu kerja lumayan longgar. Dan sebagai bentuk 'penebus dosa', berikut saya cuplikan beberapa buku yang sudah saya baca. Sekalian mencoba mengingat-ingat kembali bagaimana gaya penulisan saya dulu -yang cukup membahana. *bukansombong*

Soekarno: Biografi Politik



Bagi saya -mengakunya peminat sejarah, rasanya sungguh kepo sekali dengan seluk beluk Sang Proklamator ini. Nah, yang bikin rasa kepo saya ngelunjak, buku ini ditulis oleh orang Uni Soviet! Itu tuh, negara yang luas negaranya hampir menguasai peta dunia. Bisa dibilang buku tulisan Kapitsa M.S berduet dengan Maletin N.P ini adalah profil politik Soekarno versi timur.

Dari buku ini, saya bisa mengerti bagaimana susahnya perjuangan lewat jalur politik ketika zaman itu. Terlepas dari kelemahan beliau, membayangkan bagaimana rasanya dipenjara berkali-kali tanpa kejelasan nasib untuk bebas itu seperti nonton film aksi. Pas beliau dikeluarkan dari penjara di Ende, Flores, rasanya seperti ada 'skenario' ajaib sekali yang menyengajakan beliau agar bisa keluar dan melanjutkan perjuangan beliau di tanah Jawa.

Bagian terpentingnya adalah, buku ini memaparkan pandangan sosialis yang menjadikan alasan mengapa Soekarno menganggat dirinya menjadi Presiden seumur hidup. Penjelasan yang sangat logis sekali, mengingat saat itu kekuatan timur begitu dominan, pun karena kedekatan Putra Sang Fajar dengan Soviet dan Tiongkok.

Karena selama ini saya dan mungkin mayoritas pelajar di Indonesia dicekokin dengan buku sejarah yang memberikan wacana kegagalan sistem orde lama adalah karena keangkuhan Soekarno dengan mengangkat diri sendiri sebagai Presiden RI seumur hidup. Di buku ini, saya berpikir bahwa keputusan itu ada benarnya juga. Mengingat kendali nasional terhadap pemberontakkan daerah sangat kendor. Juga friksi antar parpol dan organisasi yang menginginkan adanya perubahan sistem kepemerintahan. 

Dengan usia RI yang belum berumur 10 tahun, sangat diperlukan sikap tegas pemimpin untuk membereskan semua kerusuhan itu hingga Indonesia siap dengan sistem demokrasi yang sebenarnya. Melihat perjuangan beliau sampai Indonesia merdeka, saya sendiri tak terbersit bahwa ada keinginan dari Soekarno untuk menjadi diktator.

Namun kenyataannya, dunia politik itu keras dan banyak sekali kacamata ideologi yang tercampur-campur. Perbedaan cara pandang inilah yang justru menjadikan perjuangan Soekarno terhenti dengan tragis lewat G 30S/PKI yang sering disebut sebagai ajang Coup De Etat (kudeta). Bahkan kematian beliau pun menyisakan kenangan pahit sejarah bangsa ini -terutama dengan Orba.

Terakhir, beliaulah satu-satunya presiden yang juga penulis buku (sendiri, bukan ditulisin). Menyadari tulisan adalah senjata propaganda, buku menjadi senjata politiknya. "Di Bawah Bendera Revolusi" dan "Indonesia Menggugat" menjelaskan bagaimana kerasanya idealisme beliau dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Yang saya garis bawahi lagi, buku-buku yang sempat dilarang terbit ketika zaman Orba itu ditulisa bukan saat beliau lagi segang, tapi justru ditulis ketika beliau di penjara!

Buku yang berat, namun sangat recommended bagi penyuka sejarah, utamanya untuk mengimbangi pemahaman cara berpolitik Soekarno dari buku-buku dari barat.

19 Jun 2014

Utopisasi Orang Dewasa



Kejengkelan ini membuncah. Tentang diri sendiri, orang lain dan realitas yang kian menjemukan. Ini bukan soal impian yang ingin digaruk dalam beberapa langkah di depan sana. Ini hanya tentang identitas yang dipertanyakan kevalidannya.

Saya benci dengan orang dewasa -pun begitu dengan pribadi ini.

Menjadi dewasa itu berasa jadi malaikat atau bahkan dewa, yang dianggap tanpa cela dan tanpa dosa. Tak ada yang mau peduli dengan kondisi kita -tentu selain sobat dekat kita sendiri. Mau bagaimana pun tingkah laku kita, siapa pun tidak akan peduli karena kita sudah dianggap SUDAH DEWASA. Tanpa pembenaran, tanpa penyalahan.

Konsekuensi logis dari definisi dewasa yang saya tangkap dari realita adalah keadaan dimana semua hal yang kita urus adalah BENAR tanpa syarat. Menjadi sempurna tanpa mau dicela. Dan selalu ngotot dengan argumen pribadi tanpa mau dikeluhkan. Sungguh memilukan, menjadi dewasa justru menjadi jalur menuju proses pengerasan hati.

Sebenarnya, dalam perspektif psikologis, fase dewasa adalah kondisi pembenaran atas nilai yang selama hidup manusia dapatkan dari dia lahir. Yang dia dapatkan dari orang tua, teman dan lingkungan yang membangun idealisme sematang dan sekeras sekarang.

Bahkan jika seluruh dunia ini berkata salah, sementara dia mengatan benar, maka dia tetap akan kokoh dengan pendiriannya. Inilah karakter utama orang dewasa.

Parahnya, jika Tuhan mengatakan salah pun, dia akan tetap membenarkannya! Dia akan merasa menjadi terbaik dari semua orang sedunia-akhirat ini.

Persepsi dalam pikirannya membangun bahwa apa yang dia lakukan selalu benar karena tidak ada satu orang pun yang menyalahkannya. Omongan dan tindakannya menjadikan role mode seumur hidup yang dijadikan panutan personal dalam keluarganya. Untuk menjadikannya acuh tak acuh dengan kritikan. Tak ubahnya seperti idiom "senggol bacok".

Saking kerasnya karakter orang dewasa itu, mau disalahin sedikit saja, pasti secara reflek dia akan mencari seribu satu alasan untuk menyangkalnya -dan, saya pun mengalami hal yang sama. Orang dewasa suka sekali menjadi pribadi (sok) bijaksana soal kehidupan. Ia akan menjadi penceramah handal jika disuruh berbicara soal pengalaman hidup. Padahal, apa sih yang sudah dia dapatkan selama hidupnya? Apa yang dia banggakan dari hidupnya? Prestasi apa yang telah menjadikannya manusia setengah dewa?

Jika mau sedikit memberikan konklusi, satu-satunya kelemahan orang dewasa adalah SELALU MERASA BENAR!




Jika dewasa itu hanya soal usia, lalu untuk apa manusia harus belajar?

Jika dewasa hanya soal uang, mungkin ini sebabnya banyak orang tua memeras anaknya.

Jika dewasa hanya soal berkeluarga, lalu apa bedanya kita dengan anjing di jalanan?

Jika dewasa itu soal pribadi yang benar, sejak kapan ada manusia mengaku jadi nabi?

Jika dewasa itu adalah mengerasnya hati, mungkin ini ada benarnya. Atau justru yang sebenarnya?

2 Jun 2014

Menumpuk Salah

2014 sudah berlalu lima bulan yang lalu. Ini sudah middle year. Apa yang sudah saya lakukan? 

Saya pun harus melakukan pengakuan dosa-dosa yang telah saya perbuat selama lima bulan berselang.

Enggan membaca dan menulis
Entah darimana datangnya penyakit ini. Namun saya merasa sangat berdosa sekali dengan tumpukan buku yang tergeletak di atas kasur. Begitu merana nasib mereka. Sudah susah-susah dibeli/dipinjam, namun hanya digunakan pelapis bantal saja. Dan penyakit ini pun menjalar kemana-mana. Saya menjadi orang yang sangat apatis dengan informasi baru, sehingga nyaris tidak ada paradigma baru yang saya telaah selama lima bulan ini.

Selayaknya tipe pembaca budiman, saya bukan tipe orang yang bisa menggali manfaat dari ceramah (gaya oral) orang lain. Kecenderungan saya menjadi cuek dengan obralan kalimat yang dogmatis. Sekali lagi saya tekankan, membaca buku sudah membutakan mata hati saya sendiri. Menjadikan pikiran saya nyaris membatu dengan merasa sok benar selamanya. Hati saya menjadi keras. Dan saya benar-benar menyadarinya.
Menulis. Kata ini seperti makhluk halus yang hampir tidak pernah saya lakukan selama dua bulan terakhir. Menulis mendadak seperti seekor singa liar, yang tak satu pun intuisi saya mampu menjinakkannya. Pribadi ini bermetamorfosis ke belakang, dari kepompong menjadi ulat. Melupakan impiannya yang sudah digaungkan sejak lama. Mengingkari janjinya untuk menjadi perangka aksara. Lupa dengan citanya. Menjadi lupa diri.

 Perbendaraan kata saya terjun bebas. Otak saya seperti mengerut karena kekeringan informasi. Tulisan saya pun mendadak menjadi sangat datar tanpa diksi yang pernah saya agung-agungkan berada dalam diri saya. Semua lenyap dengan kesengajaan.

Sok Sibuk
Seberapa banyak aktivitas yang saya emban hari ini? Pasti hanya seperduabelas dari aktivitas saya dua tahun lalu. Dengan beban yang cuman seperduabelas itu, kok bisa fisik dan pikiran saya cuman bisa jalan di tempat saja? Apa jawabannya? Adakah penyangkal dari perasaan bersalah ini? Tidak ada!

Saya terlampau nyaman dengan zona ini. Menjadikan saya malas melakukan hal-hal baru. Hanya beraktivitas sebatas apa yang memang menjadi kewajiban. Selebihnya? Gak ada!

Lupa dengan Impian
Deretan impian itu hampir lenyap dimakan makhluk bernama LUPA. Mana idealisme saya yang dulu? Mengapa saya masih jalan di tempat sementara teman-teman saya sudah melaju kencang jauh di depan. Mengapa saya menjadi orang yang dulu sangat saya benci? Yaitu menjadi orang yang menerima kondisi apa adanya. Orang yang tidak mau menekan kemampuannya sampai batas ketidakberdayaan. Orang yang percaya bahwa manusia adalah makhluk serba bisa?

Mendaki gunung. Mampu berenang. Menulis Buku. Menuntaskan 20 judul buku...bla..bla..blaaaa.. (dan mata saya hanya bisa meratap saja)

Termakan Rutinitas Usia
Bertambahnya usia memberikan saya kesadaran tentang kedewasaan dan tanggung jawab. Efek sampingnya, saya bertumbuh menjadi pohon yang beneran tua, yang tidak bisa digoyang ke mana pun, menjadi pribadi yang kokoh namun juga tidak mampu melihat ke segala arah. Apalagi ke bawah.

Usia telah membuat saya benar-benar kaku dengan idealisme yang pasti penuh dengan ketidaksempurnaan. Menjadi selalu merasa benar -yang pada kenyataannya, kebenaran adalah kemustahilan. Hati saya menjadi kaku dengan masukan orang lain. Ini adalah titik dimana saya merasa benar-benar ingin berubah menjadi Power Ranger.

dan mengapa ketika saya menuliskan daftar dosa ini seperti orang menelan orang? Itu karena saya marah dengan diri saya sendiri. Mengapa gak mau berubah? Mengapa kedewasaanmu mundur? Mengapa selalu merasa sok benar?

Kapan berubah?

4 Apr 2014

Nampan dan Allysum



Di dunia ini, banyak hal yang tidak harus selesai dalam kata. Seperti bualan pada bulan oleh sang punduk, kata tetap menjadi kata di ujung atas sana. Asa pun bisa mengepul bak uap dari nampan sang juragan. Dan masa, tanpa dikomando selalu mampu beriring dengan usia. Juga kematian.

Selalu menjadi hal yang sangat tiba-tiba, sekarang sudah bulan April! Rasanya baru kemarin saya masih TK #eh, dan sekarang saya sudah sangat amat tuwir. Sudah semakin dewasa (atau matang?). Dari sederet impian yang ingin saya wujudkan, hanya mimpi harian-bulanan yang sudah terwujud. Sisanya? Menguap di atas atmosfer bersama karbon monoksida yang mengionisasi sang Ozon.

Mengapa semakin bertambah usia, bertambah pula rasa senang di zona nyaman? Senang dengan ketenangan? Tanpa tantangan? Ingin rasanya saya bisa kembali pada masa-masa kemarin. Menjalin asa dengan keoptimisan tingkat dewa. Bersama pengharapan yang selalu tumbuh di sela-sela waktu yang menghimpit. Andai bisa, saya ingin memupuk hal yang telah terlanjur layu dalam hati ini. Dan, saya pasti bisa! #moveon #berubahmenjadipowerranger

Di atas nampan raksasa yang kita injak setiap hari, langkah tak hanya meninggalkan jejak dan cerita. Namun juga ribuan luka menganga yang menyeruak pelan dalam setiap derap. Mereka hadir beriringan dengan kemolekan pelangi di depannya, bersama semerbak wangi bunga Allysum. Menjadikan cerita berjudul kehidupan.

6 Nov 2013

Cincin Lelaki



Tak apalah saya posting curcolan geje yang masuk dalam kategori “Khusus Dewasa” ini. Semoga tidak salah tafsir saja (bagi yang mau baca aja,hehe). Harap maklum kalau over-melankolis isinya.

Ada suatu gejala tak terdefinisikan setiap kali saya melihat cincin melingkar di tangan seorang lelaki. Ini bukan tentang akik atau cincin jimat lho ya. Ini tentang cincin komitmen sehidup semati. You Know What.

Saya tak hendak membahas berapa harga cincin atau pun harganya, tapi si pemiliknya. Mereka itu memiliki aura yang tak tampak namun bisa dirasakan orang sekitarnya. Rata-rata, dari enam orang pemilik cincin yang setiap hari saya temui itu, selalu memancarkan wajah sumringah sekali. Bahkan, dalam kondisi penat sehabis lembur dari pagi sampai jam 12 pun, wajah mereka berbeda dengan wajah para jomblowan #ngacadirisendiri

Sebagai Jomblowan, mereka sering sekali berkoar-koar kepada saya dengan slogan “menikah membuat mereka jauh lebih baik dan bahagia”. Tak lupa mereka memamerkan hal-hal so sweet yang membuat para jomblowan cuman bisa bilang “seneng banget pamer”, hahaha.

Yang paling “sok pamer” adalah Bapak senior pembimbing saya yang hampir setiap hari membahas tentang hal ini. Mulai dari iseng-iseng tanya hal-hal menyerempet ke sini, atau terang-terangan pamer betapa indahnya pernikahannya, atau yang paling sering lagi adalah macok-macokin saya dengan yang lain. Dan, yang terakhir ini selalu berakhir geje dan garing karena saya tidak begitu faham dengan logika orang Barat (Jakarta-Bandung). Ujungnya, saya cuman ditertawakan bersama.

Pernah suatu hari, saya curcol soal berat badan yang sangat susah sekali naik. Bahkan seumur hidup, saya hidup dengan berat badan kurang dari normal alias kerempeng. Berikut komentar mereka.

Bapak 1 “Saya bisa gemuk seperti ini itu setelah menikah”

Bapak 2 “Setelah Bapak menikah nanti, pasti bisa gemuk”

Bapak 3 “Iya, pernikahan sangat mempengaruhi kondisi fisiologis. Dan hati menjadi lebih tenang”

Saya “Jadi saya harus menikah dengan segera supaya gemuk?”

Dan mereka mulai memacok-macokan lagi dengan ujungnya garing krik krik krik.

Positifnya, saya banyak belajar dari mereka yang sudah berpengalaman. Terkadang saya ngiri juga sama mereka, hehe. Misalnya, Bapak 3 yang mengidap sakit mag, setiap hari dibawakan bekal makanan oleh istrinya dengan ditulisi “pagi, siang, malam” dan setiap jam makan selalu ditelpon! Dan tahukan apa ringtone handphone Bapaknya? “Cinta Pertama dan Terakhir”-nya Sherina, romantis gak?

Yang paling so sweet tentu Bapak 2 yang barusan kemarin memamerkan foto anak pertamanya. “Berapa usianya, Mas?” tanya saya. “Baru satu bulan, namanya Fahri dari Bahasa Arab yang artinya Membanggakan. Anak yang membanggakan orang tuanya,” jawabnya dengan wajah yang bener-bener bahagiaaaaaaaaaaaa. #lebaykumat

Terakhir, dari curcol edisi dewasa ini, saya akhiri dengan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh mereka “Kapan Menikah?”. Dan saya cuman tersenyum dengan jawaban diplomatis alias ngeles. Hehe


Sekian.

1 Nov 2013

Memilih Usia



Ini mungkin sebuah refleksi saya yang agak serius levelnya. 

Beberapa hari terakhir ini, saya hampir setiap hari berada dalam posisi sebagai orang baru dan unyu dalam satu komunitas para "tetua". Beruntungnya bagi saya, secara pribadi saya merasa paling muda dan paling menggemaskan #toyorsendal. Selalu merasa sebagai junior, yang diperhatikan, dibimbing dan di-adik-kan. Jadinya saya tersugesti untuk menjadi adik yang ingin selalu diperhatikan dan diajari oleh sang kakak-kakaknya. Kesannya saya menjadi lebih manja dan santai.

Pada kenyataannya, mayoritas hidup[ yang saya alami, saya selalu berada di atas usia saya. Menjadi pendengar, penengah, 'menasehati' atau sekedar menjadi pihak yang selalu mengalah demi sang junior. Dan, inilah letak paradoksnya.

Menjadi orang dengan pikiran sebagai 'adik', menjadikan saya merasa lebih muda daripada usia sendiri. Ini murni sugesti, tapi saya rasakan lebih membahagiakan dari pada merasa lebih tua dari usia sendiri #pengalamanpribadi

Namun, dalam waktu bersamaan, saya juga merasa bahwa saya amat kerdil. Pengalaman saya, kedewasaan saya, kepintaran saya, keterampilan personal saya, semua mendadak lenyap ketika saya berada di tengah mereka. Saya mengerut menjadi seorang Hobit berpikiran manusia seperempat abad. Menyedihkan memang.

Tapi positifnya, di depan orang dengan usia dan pengalaman hidup yang jauh menjulang itu, saya menjadi pembelajar hiperaktif. Setiap senti jejak kehidupan para senior itu menjadi setetes demi tetes ilmu kehidupan yang membangun saya. Kelak. saya pasti akan menjadi mereka, pikir saya singkat. 

Walaupun kadang saya lebih suka dibully sama mereka, tapi saya mengamati setiap sisi lain dari mereka yang saya kagumi. Everyman is special, mereka menjadi diri sendiri dengan umurnya dan juga dengan perbedaannya dengan saya -yang merasa masih muda.

Usia bertambah bukan soal keniscayaan, namun juga sebuah pilihan untuk menentukan letak usia kedewasaan mana yang kita pilih untuk melewati jalan kehidupan di depannya.

18 Oct 2013

Ketemu Lagi di Zaman Pra-Sejarah



“Menulis membuat anda tetap waras”  begitu kata orang bijak. Saya sepenuhnya setuju dengan kalimat itu, dan kesimpulan yang bisa saya ambil adalah “saya sudah tidak waras lagi. Titik”

Tidak gampang menjaga konsistensi menulis, jika tidak ada ‘sesuatu’ yang membuat anda harus menulis. Jika bicara tentang diri sendiri, zaman dahulu kala saya terperangkap dalam satu lingkaran yang aturan utamanya mewajibkan saya untuk menulis. Sekarang tidak ada, jadinya saya kembali ke zaman pra sejarah lagi yang tak mengenal tulisan sama sekali.

Bicara tentang zaman pra sejarah, saya sudah tidak menulis hampir dua bulan! Itu rekor saya sejak saya percaya bahwa menulis adalah bentuk lain dari kewarasan itu sendiri. Mengapa? Mungkin saya merasa diri sendiri sudah tidak waras, sehingga saya tidak menulis. Atau karena saya tidak pernah menulis, sehingga saya merasa tidak waras. Keduanya. Mungkin.

Sudahlah, saya tidak mau memperpanjang durasi ketidakwarasan saya melebih zona merah alias gila beneran. Biarkan saya memulai untuk menulis. Dari sini.

Langsung saja ya, saya sudah mulai kaku untuk memberikan sebuah pengantar tulisan. Jadi ya ini dia, isinya curhatan saja. hehehe

Entah dimulai darimana, selama periode itu saya ditarik oleh gaya tak kasat mata yang menbuat saya berjalan dengan percepatan positif menuju satu titik. Pikiran saya bereaksi atas aksi yang tak bisa dianggap logis itu. Mungkin karena terlalu emosional memaknainya atau karena saya sendiri bingung mengapa dengan tiba-tiba saya merasa diri saya baru melek akan hal ini.

Titik itu adalah titik asal dimana saya memulai langkah pertama, dunia pertama dan kehidupan pertama saya. Titik itu bernama keluarga.

Sudah hampir sepuluh tahun saya berada di Surabaya, dengan semua hal yang pernah saya alami di sini, baik buruknya telah membuat saya melangkah mundur pelan-pelan dari keluarga. Setelah sekian lama mundur, tiba-tiba saya berlari maju menuju mereka. Ada sesuatu yang mendorong saya untuk berada di tengah-tengah mereka.

Selama dua bulan, saya terlah menemukan hal-hal baru yang tidak pernah saya temukan seumur hidup dalam keluarga saya.

Sebelum titik kulminasi itu terjadi, selama ini saya merasa (subjektif) bahwa saya selalu dianggap seperti anak kecil. Walaupun ketika saya sudah berusia 20 awal, walaupun saya sudah bisa kuliah mandiri tanpa minta uang sama sekai, bahkan sampai saat saya sudah kerja, saya masih diperlakukan seperti anak kecil.

Apa definisi anak kecil versi saya?