Menengadahlah kepalanya ke pelataran langit. Sunggingan senyumannya menyibak kebekuan malam ini. Lincahan kakinya merebakkan aroma semangat dalam rintihan tangis hujan yang tiada henti. Dari lagaknya, sepertinya dia masih sekolah SD. Meratap-ratap dari satu motor ke motor lain, di bawah lampu merah ini. Ia mengamen. Hingga jam setengah sebelas malam ini. Entah dari jam berapa. Ia masih tersenyum.
Tapi kok saya masih saja mengeluhkan perjalanan 40 menit yang akan saya lalui di depan sana?
¬¬¬¬¬¬¬
Di bawah bangunan berupa peraduan kapal raksasa yang menjulang gagah. Seorang pria dengan baju lengan panjang, berdasi, bercelana kain dan sepatu pantovel menggendong seorang bayi. Pria berkacamata itu menimang-nimang dalam pengapnya hawa kota Surabaya. Di bawah gedung NASDEC, ia menggendong bayinya. Spanduk di depannya melambai-lambaikan nuraninya, "Selama Datang Peserta Seminar ******* ". Oh, dia masih tidak melupakan bayinya di tengah aktifitas formalnya.
Baru kali pertama saya melihat seorang bapak menggendong bayinya di kampus ITS. Suer!
Baru kali pertama saya melihat seorang bapak menggendong bayinya di kampus ITS. Suer!
¬¬¬¬¬¬
Arah meliuk, mengularnya punggung hitam legam aspal ini sungguh mendebarkan. Juga dengan aku yang tengah beradu dengan rintikan hujam dan gelapnya malam di atas kuda besiku yang tercantik sedunia-akhirat ini. Memandangi depan, samping kanan-kiri, juga atap langit yang kelam di atas sana. Selepas landas, sekitar 15 menit di jalan, ada sebuah sepeda motor berhenti mendadak. Pengemudi tidak meminggirkan kendarannya, tapi ia agak menengah. Dari arah belakang, seorang laki-laki dengan kulit sawo sangat matang, wajah kusam dan rambut acak-acakan berjalan pelan menuju pengendara motor itu.







