Ya Allah, dua pekan ini saya benar-benar mampet nulis. Ide menggelegar banyak, tapi tak satu pun keluar dalam bentuk tulisan. Hanya cerocosan yang membaur dengan bau mulut, lawan bicara pingsan, saya kabur dan...lenyap tertiup angin waktu.
Sebenarnya, tuntutan nulis juga banyak, ada nulis buku, nulis artikel, nulis cerpen, nulis puluhan LPJ dan juga nulis revisi. Ohhhh, yang bagian terakhir sungguh menjengkelkan. Ia adalah biangkerok dari semua kemampetan ini! Suer deh. (Padahal itu juga salah saya sendiri ujung-ujungnya, hehe)
Tak apalah, sekarang saya bisa menulis lagi. Dengan tempo yang grathul-grathul dan gaya semau gue, biarlah curhatan ini menjadi sebuah untaian kalimat yang bermakna (cieleee, belagu amat).
------------------------------SERIUS MODE: ACTIVED-----------------------------------
Biarlah rasa tanya itu mengendap paksa dalam dikotomi pikiran ini. Hingga jawaban tentang dunia, yang selalu dipertanyakan manusia hadir dengan sendirinya, tanpa dikejar, tanpa dipaksa. Memaksakan sekali memang. Tapi, terkadang itu adalah keharusan. Ketika ruang untuk kemanusiaan yang teramat sempit itu ditodong dengan milyaran tanya. Pasti, ia akan tak terbendung juga kan?
Biarlah ruang "itu" yang menjawabnya. Ruang, yang tidak penuh dengan logika yang tidak logis. Dirututi oleh jawaban yang tak mampu dinalar, hingga keabsuran dunia yang semakin terlihat nyata. Inilah realita, ketika daya manusia berarti nol. Tiada.